Jakarta (ANTARA News) – “Tak peduli dia Yahudi, Muslim atau Kristen, seorang warga negara mesti menunjukkan kesetiaannya kepada negara. Jika tidak, dia bukanlah warga negara,” kata David Rotem, mantan Wakil Ketua DPR Israel (Knesset) dan orang kepercayaan Avigdor Lieberman, Ketua Partai Yisrael Beitenu (Israel Tanah Air Kita).
Pernyataan ini menyentil orang-orang seperti Rabbi Meyer Hirsh yang berani menemui Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan para anggota parlemen dari puak Arab yang memprotes pembumihangusan Gaza beberapa waktu lalu.
Ribuan warga Inggris dalam aksi unjuk rasa anti-Zionis Israel di London menyatakan sikap solidaritas mereka terhadap warga Gaza. Disamping itu, mereka juga menuntut masyarakat dunia tidak melupakan brutalitas Rezim Zionis Israel di Palestina. Para demonstran menggelar aksi unjuk rasa dengan slogan, “Kenanglah Gaza.” Jalan-jalan di sekitar bundaran Trafalgar dipadati para demonstran. Di bundaran tersebut, sejumlah tokoh politik, anggota Parlemen Inggris serta aktivis sipil dan anti-perang silih berganti menyampaikan orasi mereka di depan para demonstran anti-Zionis.
Ketua Aliansi Hentikan Perang, Lindsey German, dalam pidatonya di depan para demonstran, seraya menyinggung kriminalitas Rezim Zionis Israel di Gaza dan peran pemerintah Inggris dalam membela rezim ini, mengatakan, “Dalam memprotes brutalitas Zionis Israel, kita tidak boleh lupa bahwa Inggris juga berperan dalam mendeklarasi dan melindungi Zionis.” Ditekankannya pula, “Sangat disayangkan, kami masih menyaksikan pemerintah Inggris terus memberikan dukungan penuh terhadap Israel. Bahkan pekan lalu, para pejabat Inggris menyambut kunjungan Menteri Luar Negeri Zionis Israel, Avigdor Lieberman.” Lebih lanjut Lindsey German mengatakan, pemerintah Inggris daripada mengundang para pejabat Israel ke London, sudah seharusnya menghentikan hubungan diplomatiknya dengan rezim ini dan memboikotnya.”
Martyn Linton, seorang anggota Majelis Rendah Inggris dalam aksi unjuk rasa tersebut mengatakan, “Sejak deklarasi Israel, rezim ini di bawah kekebalan hukum internasional, terus melakukan kriminalitas dan pembantaian massal terhadap bangsa Palestina.” Dikatakannya pula, “Hingga kini, kita masih menyaksikan politik brutal Zionis. Yang lebih unik lagi, satupun dari pejabat Israel yang terlibat dalam kekejian di Palestina tidak diadili oleh Barat.”
Baroness Jeny Tang, seorang anggota Majelis Tinggi Inggris juga menyampaikan orasinya di depan para demonstran anti-Zionis Israel. Dalam pidatonya, ia mengecam kebungkaman sejumlah negara Barat, khususnya AS dan Inggris terhadap brutalitas Rezim Zionis Israel. Dikatakannya pula, “Sangat disayangkan, media-media massa Inggris lebih cenderung menghindari publikasi kriminalitas Zionis Israel.” Ia juga menegaskan bahwa Inggris sudah seharusnya memutuskan hubungan diplomatik Israel dan memboikot produksi rezim ini.
Demontrasi anti-Israel juga digelar di Jerman. Para demonstran melakukan aksi unjuk rasa dengan mengusung slogan, “62 Tahun Keterlantaran”. Menariknya, aksi itu digelar di depan Kedutaan AS di Berlin. Para pengunjuk rasa memprotes berlanjutnya pendudukan Israel terhadap Palestina dengan dukungan politik, militer, dan ekonomi negara-negara Barat.
Di Norwegia, organisasi buruh terbesar di negara ini juga mengecam brutalitas Zionis Israel dan menuntut pemerintahnya supaya memboiko produksi-produksi rezim ini hingga berakhirnya pendudukan di Palestina. Lebih dari itu, para demonstran juga mendesak pemerintah Norwegia supaya membentuk aliansi internasional anti-Zionis Israel. Lebih dari sepertiga buruh di negara ini bergabung dalam organisasi tersebut.
RIYADH (SuaraMedia) – Dari tindakan vandalisme kaum Satanis terhadap Al-Quran hingga kepada jurnalis yang mengkritisi mereka, Komisi Promosi Kebaikan dan Pencegahan Kejahatan atau yang dikenal sebagai Polisi Religius Arab Saudi merenggangkan ototnya dan mulai bertindak keras dan melakukan penyapuan serta menahan dan menuntut berbagai tindakan kriminal.
Hari Minggu kemarin, komisi tersebut menahan sekelompok Satanis yang meletakan Al-Quran di selokan dan tempat sampah dengan tujuan untuk mendapatkan berkat dari Iblis dan untuk meminta iblis memfasilitasi praktek mereka.
Komisi tersebut terbentuk pada 1924 dan menurut Jendral Manajer dari Divisi Kasus, komisi tersebut sekarang sedang melatih petugasnya untuk melawan ilmu sihir. Mereka juga sedang merencanakan untuk melakukan koordinasi dengan institusi religius dan akademis. Latihan tersebut akan dimulai di Riyadh dan akan mulai disebar ke cabang-cabang komisi.






